Rabu, Juni 03, 2015

HIDUP adalah ”MENJALANI KARMA”


Mulai tulisan ini dan kedepan, penulis akan lebih banyak menyampaikan suatu pengalaman dan perenungan kehidupan dalam keseharian sebagai tangan tangan Hyang Widhi dengan harapan pengalaman diri ini tidak hanya difahami sendiri namun bisa berguna juga buat fihak lain. Kali ini kita coba mengenal suatu alasan kenapa kita lahir kedunia dalam kehidupan nyata yang dibali disebut numadi, numitis, atau punarbhawa. 

Alasan kita lahir kembali adalah karena Atma yang merupakan percikan Hyang Widhi masih diliputi oleh karma wasana sehingga atman yang diliputi oleh karma wasana ini disebut juga badan Antahkarana. Jadi Karma yang kita perbuat dikelahiran terdahulu telah membawa kita lahir kembali kedunia. Dengan demikian hal pertama yang perlu kita sadari dan terima dengan kepasrahan adalah jalani karma kita dengan baik, buka hati dengan suatu kesadaran untuk melunasi hutang karma yang kita bawa, karena sesungguhnya Hidup adalah Menjalani Karma. Setiap kelahiran manusia membawa karmanya sendiri dengan bobot yang berbeda, ajaran Hindu menyebut Karma itu ada tiga macam wujudnya yaitu : Sancita Karma, Pararabda Karma dan Kriyamana Karma, dalam tulisan ini perumpamaan disampaikan lewat Sancita karma yaitu perbuatan pada kelahiran dulu yang kita nikmati pada kelahiran sekarang. Lalu bagaimana bentuk karma itu menyelimuti diri kita dalam kehidupan kini? Tidak ada penjelasan yang bisa kita jadikan rujukan yang pasti, namun ada yang bisa kita rasakan dan lihat dalam kehidupan nyata yaitu karma itu kita jalani lewat : Bentuk fisik yang tidak sempurna, psychis atau kejiwaan yang tidak damai, sampai kepada seret (tidak lancar) rejeki dalam kehidupan. Karma ibarat jembatan yang harus kita lalui karena jika jembatan tidak kita lalui, maka kita tidak akan sampai kepada tujuan yaitu menyatunya atman dengan brahman. Karma juga ibarat anak panah yang sekali dilepas dari busurnya maka akan mengenai sasaran atau padanan dalam kehidupan adalah karma pasti terjadi sesuai ajaran Panca Sradha. Itulah sebabnya ketika karma dilalui lewat penderitaan hidup, sakit, ketidak damaian, fisik tidak sempurna serta seretnya rejeki, maka yang paling penting dan pokok harus ditanamkan dalam batin adalah terimalah hal itu sebagai bagian dari karma yang kita buat sendiri pada kelahiran sebelumnya, dengan demikian kita tidak menentang hidup dan malah menjalani hidup dengan penuh kesadaran diri. 

Dalam banyak kasus, kesadaran akan karma ini tidak bisa membuat kita menerima dengan sadar diri namun menyalahkan fihak lain, orang tua, malah Hyang Widhi sehingga tidak sedikit yang kemudian justru menjauhkan diri dari Hyang Widhi atau dalam beberapa kasus di bali sampai berani merusak pelinggih atau sthana Hyang Widhi, ini sudah keterlaluan. Weda menyebut, bahwa ”jika engkau datang kehadapan KU satu langkah, maka AKU akan datang kepadamu sepuluh langkah”, lalu bagaimana kalau kita justru menjauh dari Hyang widhi satu langkah, maka kita akan semakin jauh dari Hyang Widhi dan akan semakin terpuruk dan jauh dari kedamaian hati. Bentuk karma yang kita alami semestinya ada pinudenya/antinya (ada cara mengatasinya) misalnya ketika kita menjalani karma melalui seret rejeki, maka me-punialah, disinilah manusia sering bertentangan batin, bagaimana bisa memberikan punia sementara untuk diri sendiri saja kita tidak cukup, apakah sudah separah itu?. Prinsif punia adalah ketulusan, sehingga nilai bukan yang utama sesuaikan dengan kemampuan diri, hal lain yang juga penting, bahwa punia yang benar adalah yang tepat/efektif, sebagai contoh ketika bertemu petani, maka berikan cangkul, ketika melihat anak tidak sekolah berikan buku atau bantu memperoleh pendidikan, ketika tidak memiliki dana, maka punialah dengan tenaga, jnana/pengetahuan, dan bentuk lainnya, dengan demikian dikelahiran sekarang kita sudah menyetop karma negatif dan memulainya dengan karma positif. 

Pertanyaan berikut, apakah kita hanya pasrah saja menjalani Karma ? tentu itu saja tidak cukup, yang perlu segera kita lakukan adalah ”Memutus Karma”, bagaimana hal itu bisa dilakukan ?. Sebagai perumpamaan, ketika dikehidupan sekarang kita memiliki kebiasaan negatif misalnya berjudi atau main perempuan, maka stop untuk tidak melakukannya lagi, ini agar kita secara pribadi tidak terikat oleh karma negatif itu dan juga keturunan kita tidak mewarisi hal buruk yang kita lakukan. Memutus karma ini sangat penting bagi kita untuk dilakukan karena ada kecendrungan, bahwa kita justru tidak mampu mengendalikan diri untuk memutus karma negatif ini. Faktor kebingungan/kegelapan di Jaman kali yuga ini bisa jadi adalah penyebabnya sehingga manusia cendrung hidup dalam kegelapan, namun bukan berarti penerangan hidup tidak ada, itulah sebabnya kesadaran akan hidup menjalani karma menjadi penting untuk kita jadikan pedoman, dan berjuanglah segera untuk memutus karma agar kita tidak diikat oleh karma negatif yang diakibatkan oleh kegelapan di jaman kali yuga ini.


Akhir kata, kesadaran akan karma adalah sebuah obor yang harus kita jaga agar tetap menyala dan mampu menerangi jalan kita kedepan, setiap manusia akan perlu berusaha keras, tidak perduli apakah mereka rohaniawan, pandita, atau manusia pada umumnya semua perlu usaha agar kesadaran ini menjadi bagian dari kehidupan sehingga kita memperoleh kedamaian, moksartham jagaditha. Om Ksama sampurna ya namah

    


Penulis,

JMk Nyoman Sukadana
Gn.Rinjani-Paket Agung-Singaraja

                                                                                                                                29-05-2015

MASIH PERLUKAH ”AJEG BALI”


”Ajeg Bali” yang sejak lama didengungkan sesungguhnya punya tujuan yang baik untuk melestarikan Bali dengan tradisinya sehingga tidak lekang ditelan jaman mengingat Bali ini sangat penting baik bagi bali sendiri, bagi Indonesia, bahkan bagi dunia, kesadaran ini perlu ditumbuhkan. Wacana Ajeg Bali ini diawal kemunculannya sempat dicurigai akan meng-ajegkan budaya-budaya Feodal sehingga tidak memperoleh dukungan dari sebagian masyarakat yang anti feodalisme, malah muncul wacana Ajeg Hindu karena agama Hindu-lah yang menjiwai setiap tradisi bali sehingga yang bertentangan dengan ajaran Hindu seperti budaya Feodal tidak perlu dipertahankan. Ajeg Hindu ini tidak perlu menjadi counter karena Hindu tidak perlu di ajegkan keberadaan ajaran Hindu justru untuk memberi rasa damai (pribadi yang ajeg), jadi tetaplah dengan konotasi Ajeg Bali namun perlu di-revitalisasi, perlu disempurnakan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Bali secara umum dan benar-benar meng-Ajegkan budaya Bali dengan jati diri Hindu.


Sampai hari ini wacana Ajeg Bali terus dikumandangkan walau kadang menumpang pada kepentingan lain seperti tolak reklamasi dengan dalih Ajeg Bali, sehingga menjadi pertanyaan apakah Ajeg Bali berarti tidak boleh ngurug pantai atau boleh ngurug tetapi ditata dengan budaya bali, atau bagaimana? ini menjadi membingungkan dan kesan yang ditangkap justru ketidak puasan dengan fihak lain. Berita terbaru dengan protes ketika perusahaan di Bali mewajibkan memakai jilbab bagi seluruh karyawan wanita yang akhirnya diluruskan, inipun dengan alasan Ajeg Bali, dan bentuk lainnya dengan pengertian semua itu demi Ajeg Bali. Walau lantang disuarakan tetapi keberadaan wacana ini secara organisasi/lembaga belum jelas keberadaannya, apakah dibawah Pemda Bali, dibawah Desa Pakraman, atau berupa LSM ? semua itu mencerminkan, bahwa cara yang dilakukan guna ajeg Bali belum terorganisir dengan baik, belum ter-strategi dengan matang, dan belum ter-integrasi, sehingga untuk keberhasilannya jauh panggang dengan api. Sekarang ini wacana Ajeg Bali mulai mendapat tantangan dengan interaksi masyarakat luar Bali yang datang ke Bali terutama 5-10 tahun terakhir yang telah merubah tatanan kehidupan masyarakat Bali dengan tradisinya, sehingga timbul pertanyaan apakah masih diperlukan keberadaannya ? Bahasan berikut ini tidak membicarakan agama atau keyakinan para pendatang, juga tidak bermaksud mengadu domba antar umat beragama tetapi mengajak semua untuk bekerja-sama memahami dan mengimplementasikan Ajeg Bali jika ingin langgeng dan Bali masih mampu menyumbangkan devisa dari Pariwisata. Tulisan ini juga tidak mengungkit umat non Hindu yang sudah lama di Bali yang sudah berinteraksi juga saling ke juang lewat perkawinan, bahkan mereka sudah menjadi bagian dari Bali. Yang ingin kita sampaikan adalah apa dampak kedatangan pendatang ini terhadap Ajeg Bali yang dijiwai oleh Agama Hindu.


Seperti kita ketahui 5 – 10 tahun terakhir kedatangan para pendatang sangat melonjak sayangnya data akurat penulis belum punya namun sebagi orang yang baru kembali menjadi masyarakat Bali setelah lama merantau sangat jelas melihat  perbedaan itu. Apakah kedatangan mereka karena Bali dengan Pariwisatanya, sehingga ingin berinteraksi seperti pepatah dimana ada gula disana ada semut, yang jelas kebanyakan dari mereka adalah pedagang kecil dan buruh serta lainnya yang tidak semua ada relasinya dengan Pariwisata. Jadi kelihatannya mereka para pencari kerja dari Jawa, Lombok, dan lain daerah karena persaingan atau kesempatan kerja yang terbatas di daerahnya. Kebiasaan para pedagang ini adalah mencari tempat dipinggir jalan, diemper rumah atau tempat kosong lainnya sehingga minim cost (tidak perlu menyewa). Situasi ini jika dibiarkan akan menyebabkan Bali tidak bedanya dengan di Jawa atau kota lainnya diluar bali, lagipula lama kelamaan akan susah memindahkannya dan akan ada perlawanan. Bagi para buruh kasar biasanya tarifnya lebih murah dan mereka lebih rajin, sehingga pengusaha lebih suka memilih tenaga luar itu karena murah sementara orang bali (Hindu) disebut malas dan banyak libur, apakah itu benar? Secara umum mungkin ada benarnya tetapi tidak semuanya seperti itu. Anehnya pengusaha yang adalah orang Bali lebih memilih tenaga orang luar daripada semeton Bali, seharusnya beri mereka kesempatan libur piodalan misalnya dan titip doa agar usahanya lancar. Jangan dikira tenaga luar tidak libur, mereka libur setiap minggu beberapa jam sementara semeton bali biasanya piodalan 6 bulan sekali, jika dibiarkan maka kedepan buruh luar ini yang rajin dan hemat bisa akan menjadi bosnya dan orang bali tetap menjadi buruh. Usaha kavling juga menjadi penyebab banyaknya pendatang yang bisa menjadi penduduk bali hanya karena membeli kavling atau sudah rumah jadi, bahkan di TV lokal ada promosi perumahan di bali selatan yang terang terangan menyebut walau ktp anda diluar Bali boleh membeli propertry ini. Dengan situasi seperti itu, maka di area busines seperti pasar, lapangan, dan tempat strategis lainnya, bahkan di objek wisata seperti Pancasari sudah dominan pendatang sehingga kita seperti bukan di Bali. Akibat dari semuanya, maka lahan-lahan di bali khusunya didekat pusat ekonomi, di bali utara kearah barat (Gilimanuk), Negara, dll sudah berdiri tempat ibadah yang sebenarnya baik dibandingkan mereka tidak sembahyang, namun tentu perlun ijin sesuai ketentuan undang undang seperti halnya orang Bali (Hindu) diluar bali yang melakukan hal yang sama dan memperhatikan letaknya/lokasinya  agar tidak merubah tatanan budaya bali karena sekarang ini kebanyakan dipinggir jalan. Bedanya adalah jika orang Bali Hindu untuk keseharian sembahyang di Mrajan (Pura keluarga) hanya pada hari tertentu ke Pura misalnya Galungan, kuningan, Piodalan, maka para pendatang ini yang beragama Muslim memerlukan tempat ibadah berupa Mushola atau yang lebih besar berupa Masjid sementara umat Krsitiani ke Gereja pada hari minggu. Lama kelamaan tempat ibadah ini akan semakin banyak karena proporsional dengan jumlah kedatangan mereka ke Bali. Pola berpikir yang baik adalah semua mahluk adalah sama sehingga bisa berdampingan dengan damai tanpa memandang apa agamanya, namun tingkat spiritual masyarakat tidak sama, bibit-bibit ketidak setujuan sudah mulai terlihat, bahkan sudah mengemuka, seperti bermunculan penolakan-penolakan lewat lembaga masyarakat yang dikhawatirkan justru terjadi benturan dan keluar dari jati diri budaya bali yang bersahabat, moderat, damai. Bentuk-bentuk penolakan mulai mengarah kepada sara seperti mengkritisi pembangunan tempat ibadah, protes masalah pemakaian jilbab bagi umat Hindu dan bentuk penolakan lainnya, ini bukan masalah sederhana sehingga perlu pemikiran yang baik dari semuanya.


Bali adalah asset nasional yang perlu dijaga tidak saja oleh orang bali yang beragama Hindu tetapi non Hindu yang sudah menjadi warga Bali dan sebagai antisipasi dan solusi bagi kepentingan Ajeg Bali, maka banyak hal yang bisa dilakukan, yang paling utama sebagai mayoritas maka orang bali Hindu harus punya jiwa mengayomi umat beragama lain yang sudah ada di Bali, kemudian bersaing secara sehat baik dalam kapasitas sebagai pe-busines, karyawan, atau buruh kasar, Ajeg Bali jadikan lembaga formal dan jelas, menurut penulis jadikan sebagi bagian dari Desa Pakraman karena kalau di bawah Gubernur, maka secara birokratis Gubernur akan tunduk kepada Mentri Dalam Negeri dan juga tugas Gubernur yang mengayomi semuanya, jika menjadi bagian dari LSM kalau itu LSM yang berkiblat ke partai juga tidak independent, maka yang paling tepat Ajeg Bali bagian dari visi Desa Pakraman walaupun tetap perlu didukung oleh Perda agar bisa menyeluruh ke pelosok bali. Komposisi karyawan/pekerja dengan tetap menjunjung profesionalisme perlu diatur, idealnya terlibat minimal 60% di perusahaan-perusahaan di bali. Pengusaha Bali perlu didukung baik dengan permodalan atau dukungan lain khususnya oleh Bank Daerah seperti BPD (Bank Pembangunan Daerah Bali), atau BPR yang banyak tumbuh di Bali,  tumbuhkan rasa persaudaran seperti semeton Chinese berbelanjalah pada warung semeton Bali,  warung Bakso Haram merupakan perwujudan dari jengah yang positif, para birokrasi seperti Deperindag, Depnaker, dll perlu mendorong sistem atau aturan yang memberi peluang lebih besar kepada orang bali dibandingkan pendatang, para lurah/kepala desa sebagai pintu pertama perlu selektif dan hati hati,  orang bali yang sukses diluar bali perlu investasi di Bali dan mempekerjakan orang Bali, semeton bali jangan saling mecongkrah sama semeton sendiri baik secara pribadi maupun dengan lembaganya, jangan terlalu mendewakan keturunan  sehingga merasa lebih tinggi dari sesama orang bali lainnya karena itu kesalahan masa lalu yang tidak perlu diteruskan, apalagi secara keleluhuran sebagian besar orang bali adalah semeton (menyame).  Kesimpulan dari semuanya adalah jika ingin Ajeg Bali bisa di terapkan dengan baik, maka mayority dalam segala lapisan perlu diupayakan, dan sebagai mayority harus punya jiwa mengayomi, namun dengan kondisi sekarang justru menjadi pertanyaan, apakah Ajeg Bali masih perlu diterapkan? Yang bisa menjawab ini adalah kita sendiri orang Bali Hindu, baik yang duduk di Birokrasi, di LSM, yang jadi pengusaha, yang jadi karyawan, buruh, rohaniawan, intelektual Hindu, yang ada di Bali maupun diluar Bali, bagaimana ? apakah masih diperlukan ?


Sebagai renungan terakhir buat kita semua, mari kita mengingat kembali beliau Ida Mpu Kuturan yang sangat visioner yang ada pada era tahun 1000 yang telah mewariskan kepada kita konsep kemasyarakan dengan tradisi Hindu yang disebut Desa Pakraman, mari kita kembalikan itu jika ternyata kita keliru menerapkannya, jangan dikotori dengan feodalisme, dan tegakkan kembali sebagai bentuk rasa hormat kita kepada beliau.


Om Siwa Rsi maha tirtham, Panca Rsi panca tirtham,
Sapta Rsi catur yogam, lingga rsi mahalinggam

Om Ang Geng Gnijaya namah swaha
Om Ang Gnijaya jagat patya namah
Om Ung Manik Jayas’ca,Semerus’ca,sa Ghanas ca,De Kuturan,Baradah ca Yanamonamah swaha

Om Om Panca Rsi, Sapta Rsi,  Paduka Guru Bhyo namah swaha


Penulis,

JMk Nyoman Sukadana
Gn.Rinjani-Paket Agung-Singaraja

                                                                                                                                13-11-2014

Kamis, November 13, 2014

"PATIWANGI" adalah Pemurnian Wangsa


Tradisi Bali yang Adiluhung, menjadi modal dasar perkembangan kehidupan umat di Bali sehingga mendapat perhatian kita semua termasuk dari lembaga seperti PHDI. Tradisi Bali ini tertuang dalam bentuk karya seni (tari, ukir, pahat), sastra (rontal), juga dalam bentuk langsung berujud etika yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Tradisi ini berkembang mengikuti jaman mulai dari jaman bali kuno, jaman Wangsa Warmadewa seperti Udayana menguasai Bali (sekitar tahun 1.000), jaman Majapahit menguasai Bali dengan menempatkan Dalem sebagai Adipati sekitar tahun 1350, kemandirian Bali sekitar tahun 1.500 karena Majapahit beralih kepercayaan rajanya ke Islam sehingga Bali terbentuk kerajaan kecil di Sembilan tempat (8 kabupaten plus Mengwi), masuknya penjajah abad XVI dengan Kastanya, dan jaman kemerdekaan 1945 dimana Bali dengan Desa Pakramannya mempertahankan tradisi leluhur, namun pengaruh penjajahan terakhir dengan Kastanya tetap terbawa. Untuk hal itu Lembaga umat yang disebut PHDI mengeluarkan Bhisama dengan melarang untuk dilaksanakan tradisi yang tidak sejalan dengan ajaran Hindu Tat Twam Asi, seperti tradisi kesekepang, juga dalam perkawinan seperti : Anglangkahi karang hulu, asu pundung, dan patiwangi, namun entah karena sosialisasi PHDI yang belum baik atau karena  masyarakat yang masih ingin menjalankannya, kasus Patiwangi ini masih terjadi di tahun 2014 ini.

Seorang teman bertanya pada penulis terkait anak lelakinya yang mengawini anak perempuan yang disebut ber-Kasta, walaupun kasta ini salah kaprah yang perlu diluruskan. Menurut teman ini ada dua upacara yang dilakukan di keluarga perempuan yaitu : “Mepamit dan yang kedua istilah teman itu turun Kasta (cq. Patiwangi)”, apakah ini sesuai dengan ajaran Hindu, demikian pertanyaan teman itu. Saya menjawab : Acara mepamit sesuai ajaran Hindu karena dalam ajaran Weda ada disebut ketika seorang anak perempuan menikah, maka orang tua si lelaki akan menjadi orang tua si perempuan, maka di Bali diterjemahkan dengan Mepamit, kemudian upacara Patiwangi (turun kasta) itu tidak ada dasar tattwanya, malah kalau Hyang Widhi bisa kita dengar mungkin Beliau akan berkata “Hanya AKU yang berhak menilai seseorang itu derajatnya tinggi atau rendah”. Disamping itu orang tua seharusnya mendoakan anak perempuannya yang akan menikah bukan malah menurunkan derajatnya (turun kasta). Karena penasaran dan juga dilandasi pemikiran positif, bahwa warisan budaya leluhur tentu niatnya untuk kebaikan, mungkin kita yang mencemari dengan faham feodal (Kasta) atau kita salah menerapkannya, untuk itu penulis mencari info keteman yang sekali lagi disebut ber-kasta, dan jawaban teman ini sangat benar dan masuk akal. Kata beliau, ini bukan upacara turun kasta, namun “Upacara beralih Wangsa” tidak ubahnya seperti berganti baju. Jawaban teman ini kemudian membuka wawasan lebih luas bahwa “Pemurnian Wangsa” sangat menjadi konsen dari Umat Hindu di Bali.


Selain membahas Pemurnian Wangsa, maka perlu disampaikan bahwa ada 3 hal yang dicampur-adukkan di Bali, yaitu : WARNA, WANGSA, KASTA. “Warna” adalah ajaran Weda yang berkenaan dengan profesi seseorang berdasarkan Guna (bakat) dan Karma (perbuatannya/karmanya), bisa menjadi Brahmana, Ksatrya, Wesya, Sudra, “bukan karena keturunan”. Kemudian   “Wangsa” adalah ikatan Pasemetonan/persaudaraan dalam satu trah/clan/wit, yang tujuannya mengikat tali persaudaraan sepurusa/garis lelaki. “Kasta” adalah produk penjajah abad XVI yang menjungkir balikkan Warna dan Wangsa menyimpang dari makna sesungguhnya karena dibentuk atas-bawah, tinggi-rendah. Yang masih menjadi problem di Bali adalah system Kasta ini yang justru masih ada di masyarakat walau sudah menurun dengan drastis tetapi masih ada, seperti upacara Patiwangi itu, dll.  Terkait dengan Wangsa, menurut penelitiaan Prof Pitana ada lebih dari 21 organisasi Soroh/Clan/Wangsa yang sudah terbentuk sejak tahun 1960 dan itu akan berkembang terus. Dengan demikian saat ini Wangsa menjadi hal penting bagi masyarakat Hindu di Bali yang tujuan utamanya untuk meningkatkan bhakti kehadapan Bhatara Kawitan yang
selanjutnya ingin “memurnikan” wangsa tersebut lewat acara Patiwangi. Jika Patiwangi adalah turun kasta, maka itu adalah kesalahan dan jangan diteruskan, namun jika Patiwangi adalah Pemurnian Wangsa, maka Wangsa lainnya seperti Pasek, Pande, dan lainnya yang karena kesalahan-fahaman Kasta disebut Sudra dapat juga melakukan acara Patiwangi bukankah sama situasinya, atau jika kita tidak memerlukan acara itu maka tidak perlu dilakukan apalagi acara itu bukan dasarnya Weda namun hanya dresta terkait Wangsa, agar kita kembali kepada Yadnya yang benar yaitu Panca Yadnya dimana perkawinan adalah bagian dari Manusa Yadnya. Ikatan Wangsa dewasa ini dicurigai sebagai bentuk peng-kotak kotakan masyarakat bali sehingga menjadi tidak bersatu, apalagi ditambah mindset yang keliru bahwa yang satu lebih tinggi dari yang lain itu harus dirubah mulai sekarang agar generasi penerus mewarisi sesuatu yang baik. Leluhur sudah mengajarkan kekuatan Wangsa ini di Bali seperti di Pura besakaih yang dilambangkan sebagai Padma Asta Dala (teratai berdaun delapan), kelopak kelopak teratai sebenarnya mencerminkan Wangsa di Bali sehingga pertama yang kita jumpai kalau kita ke Pura Besakih adalah banyaknya Kahyangan pemujaan kawitan (Atma pratista), ini berarti leluhur sudah menyadari bahwa Wangsa ini merupakan asset yang perlu dipertahankan dan diwariskan secara turun temurun, untuk itu dasar kebenaran sebagai intisari Wangsa harus dikembalikan kepada aslinya yaitu bhakti, karena bhakti pada Leluhur adalah paramo dharmah (dharma yang utama). Jangan ikatan Wangsa menjadikan kita terkotak, meninggi dari yang lain, apalagi ada kecendrungan dimanfaatkan untuk kepentingan politik, maka sinyalemen bahwa Wangsa hanya akan memecah orang Bali bisa menjadi kenyataan.



Akhir kata  apapun itu maka “Pemurnian Wangsa” ini seperti mengembalikan kejaman leluhur kita dulu, semoga ini semakin meningkatkan Bhakti pada Bhatara Kawitan masing masing yang dapat memberi kebahagiaan kepada Prati sentana dan pada akhirnya ,memberi kebahagiaan pada masyarakat, karena kebahagiaan pada masyarakat dimulai dari kebahagiaan pada keluarga. Rahajeng


Penulis,

JMk Nyoman Sukadana
Gn.Rinjani-Paket Agung-Singaraja                                                                        13-11-2014


PAGERWESI Pemujaan Dewa Ganesa


Pada buda keliwon Sinta atau setiap 210 hari, umat Hindu di Bali khususnya daerah Bali utara merayakan salah satu hari raya yang penting yaitu Pagerwesi.  Hari raya ini secara umum difahami sebagai persembahan kepada Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Paramesti Guru, hal ini sesuai dengan yang tertulis dalam Lontar Sundarigama, menjelaskan bahwa Pagerwesi sebagai hari pemujaan kepada Sanghyang Paramesti Guru yaitu Hyang Widhi yang diwujudkan dalam bentuk guru. Makna Pagerwesi ini diwujudkan dalam bentuk perayaan yang menguatkan ikatan kasih sayang antara putra (Anak/sentana) dengan Guru Rupaka, juga orang tua lainnya seperti paman,dan bibi, dibeberapa keluarga menerapkannya dalam wujud Sungkem (Pada Samskara) kepada orang tua, kebiasaan sungkem ini perlu dibudayakan karena ini adalah ajaran Hindu yang sudah jarang dipraktekkan yang perlu dikembalikan sebagai bagian dari prilaku kehidupan beragama Hindu. Upacara Pagerwesi ini rupanya tidak hanya dilaksanakan di Indonesia saja namun juga di Jambu dwipa atau ditanah Bharata yaitu India sebagai sumber ajaran Hindu tempat diterima Wahyu lewat Sapta Maha Resi. Pagerwesi di India disebut dengan Raksa Bandha dengan tujuan yang sama yaitu mengikat atau menguatkan tali kasih antara Sentana dengan orang tua (ayah, ibu, paman, bibi, dll), ikatan kasih sayang ini lebih luas antara suami dengan istri, anak dengan bibi/paman, dan sebagainya sehingga Pagerwesi ini ibaratkan Valentine Day atau hari kasih sayang yang sekarang ini menjadi trend khususnya anak muda, jadi Hindu sudah punya Pagerwesi sebagai hari raya untuk menguatkan ikatan kasih sayang.


Hubungan antara India dengan Indonesia khususnya Bali sebenarnya sangat kuat sehingga hampir semua hari raya yang ada di Indonesia, seperti Galungan-Kuningan, sampai Tumpek juga di India ada, namun karena perbedaan tradisi budaya serta letak geografis, maka secara Makna sama namun secara budaya dan waktu berbeda, dimana kita menganut tiga Pangalantaka : Surya Premana (Solar System), Candra Pramana (Lunar System), dan Sasih (Climate/Dawuh). Di Indonesia kebanyakan memakai Sasih/Dawuh/Pawukon, sementara di India : Surya Pramana dan Candra Pramana. Dengan demikian kita agar bijaksana menyikapi hal ini bahwa tradisi yang kita anut berbeda dan jangan hal itu menjadi sebuah pertentangan namun fokuskan pada Tattwa atau ajarannya maka kita akan merasa sama sebagai umat Hindu walau dengan tradisi yang berbeda. Kembali kepada Pagerwesi, bahwa jika disimak lebih dalam, ada hubungan yang erat antara setiap upacara yang dilakukan di Bali, seperti Hari raya Pagerwesi ada kaitannya dengan hari raya Saraswati dan Soma ribek/ Sabuh Mas/ sabuh pipis. Ketiga perayaan ini merupakan kebutuhan manusia sehingga perwujudan Dewa Dewi dalam ketiga perayaan ini menjadi satu kesatuan (unity) atau disebut juga Trinitas seperti halnya Trinitas lainnya yaitu Brahma-Wisnu-Siwa. Berikut mari kita simak dari sisi Makna setiap upacara tersebut dalam kaitannya dengan kehidupan karena hubungan antara Hyang Widhi dengan Bhakta yaitu kita umat Hindu sangatlah erat, karena Atman dalam diri kita adalah bagian dari Brahman itulah sebabnya diajarkan kepada kita untuk melakukan Upacara dimana Upa artinya  dekat, dan Cara/Caru artinya  Manis/harmonis, sehingga Upacara adalah suatu cara membina keharmonisan sesuai ajaran Tri Hita Karana antara manusia dengan Hyang Widhi dan alam (termasuk bhuta). Sementara alat yang kita pergunakan untuk melaksanakan upacara disebut Upakara (Bebantenan) dimana Upa berarti dekat dan Kara berarti tangan, yang makna umumnya Upakara merupakan perwujudan bhakti minimal dengan “Nyakupang tangan” dan bentuk hasil usaha manusia dengan tangannya berwujud hasil karya banten dengan ukirannya, bentuk bhakti berupa buah dan hasil bumi lainnya termasuk kemampuan seni dengan menari yang dipersebahkan yang juga bermakna persembahan bhakti. Upacara-upacara pemujaan kepada Dewa-Dewi ini perlu difahami maknanya bukan hanya menjalankan saja (mule keto) agar setiap pelaksanaan upacara menjadi dijiwai dengan dalam, mantap dan tidak tergerus oleh jaman atau berubah wujud dan makna menjadi tidak sesuai dengan sejatinya. Kembali kepada hubungan antara Saraswati – Pagerwesi – Soma ribek/sabuh Mas, ketiganya merupakan kebutuhan manusia yang hakiki, yaitu :

Hari Raya SARASWATI, yang dilaksanakan pada setiap Saniscara Umanis Watugunung atau setiap 210 hari sekali (6 bulan) tujuannya memuja Dewi Saraswati sebagi sumber ilmu pengetahuan. Manusia membutuhkan ilmu pengetahuan, karena Weda menyebutkan tanpa ilmu pengetahuan, maka manusia ibarat orang buta yang berjalan dalam kegelapan tidak tahu kemana arah tujuannya. Hari raya Saraswati di Bali diwujudkan dengan melakukan persembahan lewat buku/ilmu pengetahuan dan menjadi kebiasaan yang salah diartikan bahwa hari itu tidak boleh membaca justru hari itu perlu menyadari sumber ilmu pengetahuan itu dari Hyang Widhi, maka dimaknai agar hari itu kita focus memuja Dewi Saraswati dengan merenung/memuja dan belajar kerohanian sehingga memperoleh Ilmu pengetahuan yang keesokan harinya diwujudkan dalam Banyu Pinaruh (Banyu Pini-Weruh) atau air ilmu pengetahuan. Di Mrajan Dewi Saraswati dilinggihkan dan disebut sebagai Taksu, maka ada Taksu Dalang, Taksu Pemangku, Taksu Pragine, yang mana makna Taksu tersebut adalah Pengetahuan karena pengetahuan menyebabkan manusia me-taksu.


Hari raya PAGERWESI, yang jatuh pada Buda Keliwon Sinta atau setiap 210 hari sekali adalah hari kasih sayang antara Sentana dengan Guru Rupaka atau pemujaan Hyang Widhi dalam wujudnya sebagai Sanghyang Paramesti Guru. Pagerwesi juga bermakna Pagar atau pelindung dan Wesi berarti Besi, sehingga pagar pelindung yang paling utama adalah moral atau rohani yang baik, itulah sebabnya Pagerwesi adalah pemujaan kepada Dewa Ganesa yang merupakan Dewa penembus segala halangan dan juga simbul Spirituatas (rohani/moral yang baik). Manusia boleh saja memiliki Ilmu pengetahuan namun perlu juga memiliki rohani/spiritualitas yang baik agar ilmu pengetahuan bisa dipergunakan kejalan yang benar, jangan sampai ilmu pengetahuan disalah gunakan sehingga korupsi besar justru dilakukan kebanyakan oleh orang yang pintar, sementara orang bodoh tidak akan sampai ketataran itu. Jadi rohani yang baik merupakan kebutuhan manusia untuk memurnikan ilmu pengetahuan. Secara simbolis Dewa Ganesa memegang Lontar pengetahuan suci dan Dewa Ganesa sebagai pembersih/penglukat sehingga Caru yang tinggi adalah “Caru Rsi Ghana”. Sekarang ini salah kaprah dimasyarakat dimana Dewa Ganesa disamakan dengan Penjaga atau Penunggun Karang sehingga dapat dilihat ditembok atau diluar rumah dilinggihkan, seharusnya linggihkan di Mrajan atau setelah pintu masuk karena ketika ada orang yang hadir/mampir disucikan oleh Dewa Ganesa, walaupun sebenarnya sudah ada Pelinggih Lebuh didekat pintu masuk sebagai pemujaan Dewa Baruna. Ciri pelinggih umat Hindu di Indonesia (khususnya Bali) adalah berwujud “Stana/Linggih” Dewa-Dewi, sementara India berwujud Personifikasi, sehingga Simbul Dewa Ganesa adalah adopsi dari India yang sekarang sedang marak karena pola pikir masyarakat Bali secara umum yang selalu khawatir (khawatir di leak tetangga, khawatir di kantor, dll) maka setiap pemujaan diarahkan untuk menjaga, sehingga Dewa Ganesa diartiakan sama dengan Penunggun Karang, padahal Rohani yang baiklah yang akan menyelamatkan atau menjaga kita.


SABUH MAS / Sabuh Pipis atau soma ribek dilaksanakan pada setiap 210 hari sekali sebagai bentuk pemujaan kepada Dewi Sri (Sri Sedana) yaitu Dewi kemakmuran. Manusia boleh saja memiliki Pengetahuan dan juga spiritualitas, namun jika tidak memiliki kemakmuran artinya tidak memiliki Artha yang dalam Weda disebut alat untuk mencapai tujuan, maka Pengetahuan dan Spiritualitas tersebut tidak sempurna. Dalam bahasa awam kalau kita tidak ada dana bagaimana bisa mengejar pengetahuan dan bagaimana spiritualitas bisa stabil kalau keuangan tidak mencukupi untuk menata kehidupan, sehingga kemakmuran merupakan salah satu kebutuhan pokok umat Hindu. Dewi Sri/Dewi Laksmi, di Bali disebut Dewa Ayu Melanting yang dipuja di Pelinggih Gedong Sari/ Sri Sedana atau bagi pedagang menyebut Bhatara Rambut Sedana. Di Mrajan dilinggihkan berderet dengan Pelinggih Taksu.


Dengan demikian bisa disimpulkan, bawa manusia membutuhkan : SARASWATI (Ilmu Pengetahuan), GANESA (Spiritualitas/Pagerwesi) dan SRI MAHA LAKSMI (Kemakmuran/Sabuh Mas)
    


Penulis,

JMk Nyoman Sukadana
Gn.Rinjani-Paket Agung-Singaraja                                                                         13-10-2014


Piodalan ”PURA PEMACEKAN” Karanganyar-Solo-Jawa Tengah



”Pura Pemacekan” atau dikenal juga dengan sebutan  ”Petilasan Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan & Parhyangan Sapta Pandita”  setiap tahun pada Purnama Katiga melaksanakan Piodalan, pemilihan Purnama Katiga ini didasarkan pertimbangan oleh Penglingsir, untuk memberi kesempatan kepada Sulinggih dan umat untuk Bhakti karena kalau Purnama lainnya terutama Purnama Kapat akan sangat sibuk di Bali. Piodalan kali ini jatuh pada 09  September 2014 Nyejer 3 hari (Nyineb 11 September 2014). Untuk tahun ini Penanggung jawab upakara adalah MGPSSR Kabupaten Karangasem dibawah Koordinasi Ketua MGPSSR  Karangasem I Gede Pawana Sag,MFILH. Seperti biasa Pengempon Pura membentuk panitia kecil untuk nyanggra atau mendukung kelancaran piodalan.

Pelaksanaan Piodalan :
Diawali dengan matur piuning dan Nunas tirta di Candi Ceto oleh Pemangku Pura Jero Mangku Made Murti. Persembahyangan Beji dilaksanakan pada sore hari 8 September 2014 dipuput oleh tiga Sulinggih, yaitu Pandita Mpu Jaya Sattwikananda-Griya Taman Bali Bangli,  Pandita Mpu Jaya Wasisthananda-Griya A Yani Denpasar dan Pandita lainnya. Prosesi dilaksanakan dengan ngusung Pratima Ida Bhatara ke Beji diiringi oleh para Pemangku dan umat, dilanjutkan dengan persembahyangan, dan mewali melinggih di Bale Piyasan. Puncak piodalan pada pagi hari 09 September 2014 dipimpin oleh : 7 (Tujuh) Pandita, dimana 5 diantaranya adalah Sulinggih dari Karangasem, prosesi dipandu oleh Pemangku Pura Jero Mangku Pasek agar acara berjalan tertib. Disela-sela yadnya juga dipentaskan Tari Topeng oleh I Nyoman Chaya dan diiringi gamelan yang membuat suasana semakin religius. Ratusan umat yang hadir larut dalam bhakti pada Beliau yang agung dan suci dimana ratusan kilometer ditempuh sebagian umat itu untuk bisa hadir menghaturkan bhakti. Sebelum selesai prosesi upacara, Ketut Nedeng sesepuh yang sejak awal terlibat dalam pembangunan Pura memberikan dharmawacana dan pemaparan sejarah pembangunan Pura agar umat yang hadir faham dengan keberadaan Pura. Sekitar Jam 11 wib seluruh prosesi yadnya selesai dilaksanakan dan umat serta Sulinggih kembali ketempat masing-masing dengan perasaan puas, bangga, dan haru telah bisa hadir sungkem kehadapan Bhatara Kawitan. Setelah Nyejer 3 hari, maka pada 11 September 2014 hadir semeton dari Singaraja ngiring Ida Pandita Mpu Dharma Mukti Sidha Kerti – Griya Tukadmungga yang memimpin Upacara Nyineb, dengan demikian selesai sudah prosesi Piodalan tahun ini semoga bisa kembali dilaksanakan pada tahun depan dan memberi kesempatan kepada damuh Ida Bhatara yang belum bisa tangkil.

Ada perubahan penampilan Pura Pemacekan.

Mengingatkan kembali, bahwa Petilasan Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan diketahui keberadaannya atas pewisik Niskala yang diperoleh Jro Mangku Gde Ketut Subandi dan ditemukan pada 10 Maret 1984, juga peran Sulinggih seperti Ida Mpu Renon, Ida Bongkasa, Ida Dwi Tantra, dan lain lain serta tokoh umat seperti Ketut Nedeng, Merta Suteja serta lainnya, melalui aktifitas mereka akhirnya berdiri Pura pemacekan. Petilasan itu sendiri berupa 2 gundukan batu yang oleh penduduk setempat dihormati sebagai tempat orang suci, pengelolaannya waktu itu oleh Mbah Wiryo penduduk setempat. Orang Suci tersebut adalah Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan hijrah dari Jawa Timur ke Karanganyar/Surakarta pada Era runtuhnya Majapahit, menetap di Dukuh Pasekan/Dusun Keprabon, dan jadi rohaniawan kerajaan Surakarta. Walaupun banyak yang mau memugar Petilasan ini tetapi Ibu Tarjo (Almarhum)  yang memiliki tempat ini mendapat petunjuk Niskala, bahwa akan ada trah beliau dari Bali yang akan memugar tempat ini. Pemugaran sederhana dilakukan pada tahun 1986-1988. Pada 9 Nopember 1990 dihadiri oleh Bupati Karanganyar, Camat dan Lurah Karangpandan, fihak Mangkunegaran, dan umat dari Bali, dilakukan Pitra Yadnya dan Yadnya lainnya, walaupun menurut rohaniawan beliau Moksa. Renovasi besar-besaran dilakukan pada sekitar tahun 2000 dipelopori oleh Pandita Mpu Nabe Pemuteran-Renon , Ketut Nedeng, dan semeton dari Bali serta umat dari Karanganyar/Solo. Pelinggih yang baru adalah :  Padmasana, Sapta Pertala, Bale Piasan/Pepelik, Bale Agung (tempat Banten), Bale Pawedan, Candi Bentar, Candi Gelung, Peristirahatan Umat & Sulinggih (Bale Banjar), dan khususnya Meru Tumpang Pitu yang merupakan „Parhyangan Sapta Pandita“ karena Sapta Pandita itu memang tidak menetap di Bali tetapi di Kuntuliku Desa sekitar Malang/Kediri. Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan adalah Trah Sapta Pandita yang pertama (Mpu Ketek). Ngenteg Linggih pada 21 September 2002 (Purnama Katiga) dipuput Mpu Pemuteran Renon dan Pedanda Oka Punia Atmaja, serta Penanda-tanganan Prasasti oleh Raja Solo ”Sinuhun Paku Bhuwono XII (Almarhum). Sejak 11 Februari 2005 Petilasan ini secara resmi dibawah naungan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Pusat dan dalam operasionalnya membentuk ”Pengempon” yang anggotanya Semeton Hindu asal Bali dan Jawa, maka pertama kali piodalan dilaksanakan oleh Pengempon Petilasan sebagai Panitianya dan Upakara (Bebantenan) dikoordinir dari Bali. Pengempon periode II masa bhaktinya : Februari 2010-Februari 2015. Pembangunan berikut adalah ”BEJI” sudah dimulai sejak ”Ngeruak karang dan membangun pelinggih awal” dilakukan pada tilem kelima 27 Nopember 2008, dilakukan Pandita Mpu Nabe Jaya Rekananda, didampingi Putra Dharma, Pandita Mpu Jaya Satya Nandha, Pandita Mpu Jaya Wasistha Nandha, Ida Bhawati Putu Setia, serta rombongan pengayah 14 orang. Pada Jumat Legi, 3 April 2009 dilaksanakan ”Upacara Pemlaspasan BEJI” dipuput oleh Pandita Mpu Nabe Jaya Rekananda yang merupakan penglingsir Pura setelah Nabe beliau Ida Pandita Mpu Nabe Sinuhun Pemuteran Lebar (meninggal). Pada Agustus 2011 pengempon berhasil menyelesaikan Pasraman Pandita dibelakang Beji yang dikerjakan sekitar satu tahun sejak Agustus 2010, sehingga ada tempat yang layak buat Ida Sulinggih yang tangkil.

Periode dua tahun terakhir terjadi perubahan yang cukup besar di Pura Pemacekan, telah diplaspas pada piodalan tahun lalu (2013) Bale Kulkul yang merupakan punia dari Ida Mpu Nabe Jaya Rekananda (amor ring acintya), dengan demikian ikon Pura pemacekan berubah dengan adanya Bale Kulkul ini dan bertambah baik. Sementara itu Bale Agung yang berada di jeroan pura dimana awalnya tempat upakara/banten dan diarea bawah tempat gamelan ketika piodalan karena pertimbangan tanah yang masih labil dan juga memperluas areal Pura, maka bale dihilangkan, selanjutnya Padmasana dan Sapta Pertala digeser ketimur sehingga areal menjadi lebih luas, sementara Patung Ganesa dari pojok timur-utara bergeser kebarat. Padmasana yang baru punia dari Ida Mpu Jaya Satya Nanda dari Griya Bitra dan Sapta Pertala punia dari umat bernama Restu dari Gianyar dan di plaspas pada Purnama Karo lalu. Perubahan ini memang membuat ada perbedaan corak arsitektur Pelinggih dan sudah dipertimbangkan kedepan untuk menata lebih baik khususnya dengan konsep local genius mengingat Pura berada di Jawa. Pembangunan lainnya di area Beji menjelang piodalan tahun ini dibuat pemisah berupa Gapura dan sekaligus dibuatkan jalan ke Pasraman sehingga Sulinggih dan pengiring yang datang bisa langsung ke Pasraman tidak melewati Beji. Perubahan-perubahan kearah lebih baik akan terus berlanjut mengingat keberadaan awal Pura adalah sebuah semangat bhakti ngetut wit Bhatara Kawitan sehingga faktor prasarana menjadi pertimbangan berikutnya, namun seiring dengan kehadiran umat yang terus meningkat, maka pintu punia menjadi besar memberi peluang umat untuk bhakti dalam wujud meningkatkan kualitas fisik Pura Pemacekan karena itu juga wujud Bhakti.


Akhirnya, astungkara karena Piodalan telah berhasil dengan baik, pada kesempatan ini ucapan terima-kasih kepada semua umat, Pinandita, dan Sulinggih yang terlibat karena memang demikianlah bhakti itu, : Yang memperoleh anugrah harta lakukan Punia, yang berhasil dalam pertanian/perkebunan haturkan hasil bumi, yang memperoleh pengetahuan (Jnana) lakukan Jnana Punia untuk kemajuan umat, yang memperoleh anugrah seni, maka ngayah dengan menabuh & menari, yang memperoleh kesehatan maka haturkan dengan tenaga, dan banyak bentuk rasa syukur kita akan anugrah Hyang Widhi. Demikianlah sejatinya makna dari setiap persembahan yang kita lakukan, semoga menjadi sempurna bhakti kita. Om Ksama Sampurna ya Namah Swaha.


Dilaporkan oleh,

JMk Nyoman Sukadana
Gn.Rinjani–Paket Agung-Singaraja                                                                        13-09-2014

Senin, Mei 06, 2013

Perenungan

PERENUNGAN

Om Swastyastu,
Salam Sejahtra buat kita semua.

Ampure sudah lebih satu tahun sejak kepindahan dinas ke Bali dari Solo pada  Januari 2012, kegiatan tulis menulis praktis jeda sementara, saya tidak sempat lagi menulis : di Majalah Raditya, Media Hindu, serta mengisi Blog khususnya blog pribadi ini, namun jeda ini saya anggap perenungan diri dan banyak hal yang bisa saya angkat menjadi tulisan di waktu mendatang. Perenungan yang saya dapatkan dari pertanyaan : kenapa saya kok pindah ke Bali dari Solo, padahal di jakarta pun saya siap bekerja, setelah mengamati dalam perenungan beberapa waktu ini (lebih dari setahun), maka yang saya dapatkan pencerahan sbb :

1. Semua yang terjadi terhadap saya adalah kehendak Hyang Widhi.

2. Dengan pindah ke Bali, Hy Widhi memberi kesempatan untuk saya menyelesaikan Pitra Yadnya keluarga besar dibawah kepimpinan saya dan astungkara sudah berhasil dengan baik, bayangkan bagaimana kalau saya masih di Solo.

3. Pura Pemacekan di Solo walaupun saya tidak disana, akan tetap berjalan malah semoga lebih baik.

4. Di Bali saya dapat belajar banyak hal praktis ke Pemangkuan dan dapat menselaraskan Tattwa dan Upakara sehingga umat tidak berat dan umat melakukan Yadnya dengan "Sattwika Yadnya (Ber-Yadnya dengan penuh kesadaran dan tahu akan maknanya), dibanding "Tamasika Yadnya (ketidak tahuan) dan Rajasika Yadnya (Yadnya untuk Pamer).

5. Kewajiban saya dalam pelayanan umat yang awalnya hanya pertanyaan : yaitu kenapa saya kok menyenangi penyucian/penglukatan/amretista, dan sejenisnya, ternyata belakangan dapat pencerahan : karena kelahiran saya adalah Ganesa yang jika menjadi pelayan umat sebagai Pemangku atau rohaniawan akan banyak melakukan job diatas.

6. Untuk melakukan fungsi (point 5 = amretista), maka tidak pernah menyangka saya bisa memiliki rumah : 445 M2 (4,45 are) dengan 2 kavling (terasering) kavling bawahnya untuk rumah dan atasnya untuk Mrjan lengkap dengan Kamar untuk saya dan istri, Bale Yadnya, Bale sikenem dan sikepat, Mrajan diatas dengan tangganya yang indah. Walau Mrajan ini belum finishing ternyata umat banyak yang tahu keberadaan saya dan hadir untuk nunasang ke Hy Widhi Penyucian/amretista, dan petunjuk lainnya (komunikasi dengan leluhur dan Taksu suci mereka) dan astungkara saya melakukannya dengan iklas walau hanya bisa hr Sabtu dan Minggu karena senen-Jumat dinas mengingat masih membutuhkan biaya untuk anak-anak kuliah dan sekolah.

7. Dari bantuan kepada umat, maka banyak hal kehidupan (Skale) yang ada hubungan dengan Niskale menjadi tahu yang tentu tidak ada di buku pelajaran, ternyata ada hubungan erat antara skale dan niskale, manusia hanya hidup "Menjalani Karma", agar sabar dan ingat "Kesabaran tidak ada batasnya, begitu kesabaran dibatasi/berhenti, maka masalah akan timbul.

8. Kedepan saya akan bagaimana ? semua terserah kepada Hyang Widhi manusia hanya bisa menjalani karmanya.

Demikian sekedar cetusan hati dan pada kesempatan ini saya mohon maaf kepada pembaca yang komentarnya belum saya jawab atau lama terjawab semoga kedepan blog ini akan lebih hidup lagi.
Om Shantih Shantih Shantih.
JMk Nyoman Sukadana

Jumat, Januari 06, 2012

WALAKA menggugat PANDITA


Perbedaan masyarakat berdasarkan guna (bakat/gen) dan Karma (aktifitas/perbuatannya) adalah sesuatu yang benar sesuai dengan ajaran Catur Warna, namun dalam keseharian masyarakat khususnya di bali ada juga perbedaan masyarakat dalam dua kelompok, yaitu : PANDITA dan WALAKA. Pandita disini adalah Brahmana, Sulinggih, Wiku, atau mereka yang sudah di Dwijati sementara diluar itu adalah WALAKA. Dalam perkembangannya para Pinandita/Pemangku yang sudah winten Eka jati dan Sarati banten yang merupakan tangan-tangan Pandita menjadi bukan Walaka, sehingga menjadi jelas pengertian Walaka adalah mereka yang belum di Winten Eka jati atau mereka yang masih mengabdikan dirinya sebagai masyarakat umum, bukan Pinandita, sarati, atau Pandita. Dalam hubungan kemasyarakatan, maka di Bali khususnya, secara otomatis akan memanggil orang yang sudah winten Eka jati dengan sebutan Jero , juga kepada Sarati banten, karena jika sudah mengambil fungsi itu seharusnya Sang sarati ini juga di di Winten minimal winten Saraswati. Untuk masyakat umum yang kesehariannya membuat banten untuk diri sendiri atau di banjar, di Pura bukan dalam pengertian Sarati Banten. Hubungan kemasyarakatan yang memanggil berbeda kepada Pinandita, sarati, atau Pandita, bukan dalam pengertian feodal namun sebagai wujud penghormatan karena masyarakat membutuhkan Pinandita, Sarati dan Pandita yang suci, sebab mereka akan diminta (dituwur) untuk mengantarkan upakara Yadnya sehingga syarat kesucian ini menjadi penting. Jadi masyarakat ini menjaga Pinandita, Sarati, dan Pandita seperti menjaga kesucian air (steril), atau menjaga barang berharga (keramik, lukisan, dll), apalagi semua ini didukung oleh ajaran agama Hindu yang merupakan ”Tiga Kerangka Dasar” yaitu : Agama, Susila, Upakara (Ritual).


Fenomena dimasyarakat sekarang benar-benar sangat merisaukan penulis, karena sor singgih ini menjadi kurang diperhatikan oleh masyarakat khususnya walaka, disisi lainnya ada Pinandita yang menuntut sekali terhadap Sor singgih ini, padahal ini bukan tuntut menuntut namun sudah sesane (etika) bukan feodal. Apalagi sekarang mulai banyak terlihat Walaka sudah tidak ada rasa sungkan, tanpa etika dengan ”menggugat Pandita”. Pada pasca Mahasaba X ini, kita dipertontonkan oleh suatu fenomena yang tidak mencerminkan etika di perbincangan di banjar, juga di media-media, yang jika dicermati dengan hati yang jernih isinya sebenarnya ketidak puasan. Inti yang disorot adalah di Lembaga Darma Adyaksa dan pemilihan Ketua Sabha Walaka yang dianggap tidak benar. Penulis tidak mau masuk kepada pembelaan atau penentangan salah satu fihak, karena tidak ada yang perlu dibela atau ditentang semuanya milik kita, namun yang ingin diangkat disini adalah etika kita terhadap fihak lain khususnya kepada Pandita sesuai dengan alasan diatas. Dalam Mahasaba X penulis tidak tahu apa yang terjadi pada rapat-rapat, namun pertanyaan Walaka kepada Pandita dengan bahasa tuduhan, tekanan, apalagi dengan membeberkan bahwa Pandita tersebut memiliki busines dsb sifatnya hanya merendahkan seorang pandita dihadapan umum dan itu adalah tidak baik. Pandita adalah manusia biasa yang bisa salah, namun bukan tugas kita Walaka yang menggugatnya apalagi mencerca, karena dilingkungan Pandita ada Nabe, ada Raka, ada juga Paruman Pandita yang akan mengurus hal pelanggaran, pelecehan, atau yang diluar sesane kawikon itu, sekali lagi ini bukan urusan Walaka. Katakanlah misalnya bunyi peraturan PHDI, misalnya membolehkan masyarakat atau Ketua Umum mengkoreksi Pandita, namun Sesana kepada Pandita tetap ada yang perlu dijunjung tinggi kalau kita mau disebut umat yang ber-etika. Tidak banyak yang tahu, bahwa tindakan seorang Nabe kepada Putra dharma yang adalah Pandita pada titik tertentu sangat berat, misal pelanggarannya sudah melampaui batas , bisa sampai ”memutus ikat kepala” (Prucut) sehingga Pandita yang menyimpang ini perlu 10 tahun untuk memulai perjalanan rohaninya dengan sujud bhakti ke Pura/Parhyangan hingga dikembalikan jati dirinya sebagai pandita, belum lagi yang tanpa kita ketahui bisa jadi seorang Nabe menutup titik tertentu karena Nabe bisa membuka tentu bisa menutup. Jadi melalui tulisan ini penulis menghimbau mari kita gunakan etika yang baik agar kehidupan ini menjadi baik dan ber-etika. Bagi walaka yang duduk di organisasi, seperti PHDI, atau kelompok trah (Gotra) yang kebetulan memegang jabatan misalnya : Bidang Kesulinggihan, jangan menjadi semena-mena menggunakan jabatan untuk meng-gugat atau melarang Muput misalnya, jangan sampai kita melebihi dari yang seharusnya kita lakukan, biarlah itu urusan Nabe, Raka, dan Paruman Pandita.


Bagaimana terhadap kritikan terhadap Pemilihan Ketua Sabha Walaka Mahasaba X yang disebut liar? Untuk hal ini penulis sebenarnya tidak senang mengurusi keorganisasian seperti ini karena sejak dulu penulis berusaha kuat untuk tidak duduk di organisasi karena dijaman kali yuga manusia cendrung emosi, marah, dan ini godaan berat buat kita yang menyukai atau sudah menjalani kehidupan rohani, namun karena ini kaitannya PHDI yang adalah organisasi umat Hindu, maka penulis mau berpendapat dengan tetap penekanan disisi etika. Kakek penulis selalu memberi nasehat kepada kami dengan kalimat ”masalah keluarga jangan sampai keluar, selesaikan didalam dengan baik karena orang luar belum tentu memberi kebaikan buat keluarga kita”. Organ didalam PHDI penulis anggap satu keluarga besar sehingga jika terjadi sentuhan-sentuhan, itu biasa, kalau toh dicurigai ada rekayasa, apa yang didapatkan didalam PHDI karena untuk darmawacana ke kantong umat saja PHDI kurang dana, kalau merekayasa lebih baik dipartai politik disana uang berlimpah. Disamping itu PHDI adalah organisasi ke-agamaan bukan organisasi politik, maka cara kita berbicara, mengkritik, memberi masukan, tetap perlu didasari oleh Tri Kaya parisudha, jangan sampai mendulang air malah kita sendiri yang kena cipratannya. Jangan terbawa pembicaraan di media-media yang semua membawa nama rakyat sementara rakyatnya masih banyak yang menderita, maka kalau kita membicarakan PHDI dengan nama umat Hindu, mari berikan umat Hindu ini : ide, pemikiran, jalan, dan tindakan nyata yang dapat meningkatkan jati diri ke-Hindu an masyarakat ini, jangan sampai umat semakin berkurang karena lembaga umatnya ribut. Jangan juga membuat tandingan karena kekecewaan, yang akhirnya akan semakin memperparah keadaan, demokratisasi dengan lembaga yang banyak tidak selalu baik mengingat dijaman kali yuga ini manusia cendrung emosi, sehingga semakin banyak lembaga semakin banyak perdebatan dan semakin tidak nyaman hidup ini. Semoga pikiran yang suci datang dari segala penjuru.


Penulis,

Nyoman Sukadana
Karanganyar - Solo - Jawa Tengah 13-11-2011