Rabu, Februari 17, 2010

SOROH (CLAN) DI BALI TERKOTAK , DILUAR BALI BERSATU

Soroh / Clan di Bali pada awalnya mempunyai dasar atau alasan yang baik, yaitu agar ”Pasemetonan/persaudaraan” tetap terjaga, itulah sebabnya di Bali banyak dijumpai perkumpulan-perkumpulan satu trah (satu kawitan). Organisasi Clan/soroh kini memang bertebaran di Bali. Setiap tahun jumlahnya terus meningkat sejalan kesadaran dan keinginan tiap warga yang merasa berasal dari satu wit (asal mula) untuk mempersatukan diri.
Studi mengenai gerakan kewargaan (clan/soroh) di Bali yang disusun I Gde Pitana, guru besar Fakultas Pertanian Unud, menunjukkan hingga tahun 2000 ada 32 organisasi kewargaan di Bali, dari jumlah tersebut, malah ada yang sudah terbentuk sebelum Indonesia merdeka. Itulah Keluarga Besar Bhujangga Waisnawa, terbangun tahun 1930, kemudian direorganisasi tahun 1951 dan 1982. Tahun 1950, berdiri organisasi warga Arya Kenceng Tegeh Kori. Pada 1962, terbentuk ikatan kewargaan Keluarga Besar Arya Kepakisan Dauh Baleagung.
Masyarakat Bali yang tergabung dalam warga Pasek membangun organisasi Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) dibentuk pada 17 April 1952. Adapun Maha Gotra Sentanan Dalem Tarukan berdiri tahun 1980. Warga yang bersatu dalam wadah Brahmana Siwa adalah mereka yang merasa dari keturunan Dang Hyang Dwijendra. Kemudian warga yang mengakui Bang Manik Angkeran sebagai leluhurnya, maka akan menyatukan diri dalam ikatan organsasi trah Manik Angkeran, dan banyak organisasi soroh/clan lainnya atau yang mungkin akan terbentuk. Jika kita tarik garis keatas, maka orang Bali sebenarnya banyak berasal dari leluhur yang sama, namun karena perkembangan jaman dan jumlah prati sentana, maka untuk menjamin komunikasi lebih cepat dan effektif, maka kelompok ini menjadi semakin banyak dengan anggota yang lebih terbatas, itulah sebabnya sekarang banyak muncul kelompok-kelompok soroh yang beberapa dari kelompok itu adalah masih satu leluhur. Pada pandangan positif, maka organisasi ini akan membawa suatu kebaikan dimasa mendatang karena niat awalnya baik, seperti : MGPSSR mendasarkan pada Bhisama Leluhur agar para Pratisentana tidak menganggap saudara Pasek lainnya tidak lebih jauh dari sepupu, sehingga rasa persaudaraan yang tinggi sebagai bentuk bhakti pada leluhur. Soroh/clan lainnya tentu mempunyai alasan yang sama. Jika kita evaluasi kenyataan yang ada, maka organisasi soroh ini menjadi ternoda atau keluar dari visi awal dari leluhurnya (kekeluargaan) menjadi kelompok exclusive bahkan kelompok satu merasa lebih tinggi dari lainnya, ini yang tidak baik bagi perkembangan kedepan. Jadi kesimpulannya sosoh/clan di Bali sudah terkotak-kotak dengan kadar kesadaran kebersamaan yang perlu dipertanyakan.

Di luar Bali, misalnya di Jawa, karena orang Bali merasa dirantau, maka semangat persatuan lebih baik, ditambah lagi dengan adanya umat non suku Bali, seperti Suku Jawa, maka memaksa mereka harus bisa bersatu dengan sesama umat Hindu itu dan melapaskan soroh/clan mereka. Walaupun demikian watak exclusive bahkan merasa lebih tinggi tetap masih ada dibeberapa umat Bali khususnya yang pola pikirnya masih ke-Balian dilain fihak ada yang merendahkan dirinya dan cukup bangga bahkan tidak merasa telah menjadi rendah. Secara umum kedepan pola pikir ke-Balian itu akan tergerus oleh perkembangan jaman dan akan dipaksa oleh keadaan untuk meninggalkan pola pikir exclusive tersebut, sebab ini tidak baik bagi perkembangan Hindu kedepan. Media yang bisa membuat ini tercapai adalah di Pura karena Pura punya fungsi horizontal (social function) yang mengikat kekerabatan menjadi sesuatu yang berharga dan prioritas. Salah satu yang mempunyai misi itu adalah „Petilasan Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan dan Parhyangan Sapta Pandita di Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah“. Dari awal para Sesepuh sudah menilai, bahwa Pura ini akan menjadi „Pancer“ penyatuan umat dari berbagai Soroh/Clan, suku, bahkan tidak menutup kemungkinan umat manusia. Karena Pura ini Parhyangan Pasek, mungkin ada umat yang masih risih bahkan mungkin khawatir akan keagungan tempat ini dikemudian hari terutama yang pola pikirnya ‚kebalian“, tapi sejalan dengan perkembangan jaman, maka waktu yang akan membuktikan, bahwa Pura ini adalah Pura Persatuan. Umat dari Mahasiswa, umat Hindu pada umumnya, bahkan umat beragama lain, telah merasakan aura persatuan itu. Pura lainnya seharusnya bisa melakukan hal yang sama.

Lalu, apa hal lain yang bisa dilakukan agar keberadaan suatu Organisasi keumatan yang bernuansa spiritual bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan Hindu ? Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti :
1. Silahkan bergabung dalam kelompok-kelompok spiritual apapun selama itu untuk kebaikan, karena secara manusiawi manusia akan mencari kelompok yang sejalan dengan visi dalam dirinya. Jadi ini seperti Forum diskusi.
2. Jangan exculusive, tetapi berbaurlah walaupun kita mempunyai kelompok disisi lainnya, karena manusia butuh bermasyarakat.

Penulis,

Nyoman Sukadana
Jaten-Karanganyar-Solo
18-09-2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan bagi yang ingin memberi komentar, masukan, rembug, atau sejenisnya dengan etis dan kesadaran untuk kebaikan bersama (Salam Pemilik Blog)