Selasa, September 01, 2009

PENDAPAT PRIBADI TENTANG ”KERAUHAN”

Kerauhan, kerangsukan, kodal, atau apapun istilahnya merupakan Fenomena di masyarakat yang telah menjadi bagian kehidupan kita. Kerauhan ini juga dikenal di negara-negara lain cuma tidak perlu disampaikan disini. Kerauhan ini bisa dialami oleh setiap orang biasanya yang berada diwilayah kegiatan ini, seperti : Praktisi spiritual, pemangku, dll. Seorang Pemangku atau Jro Gede kadang masih ada yang Kerauhan, bahkan ada Profesi khusus di Bali yang kegiatannya adalah Ngerauhang, umumnya : Ngerauhang Leluhur, atau menanyakan siapa yang nitis pada si bayi dan ditanyakan setalah 42 hari. Bagi seorang Sulinggih merupakan pantangan untuk Kerauhan, tetapi siapa yang bisa menjelaskan kenapa ?. Secara umum ”Konotasi” kita tentang Kerauhan adalah kehadiran Bhuta Kala, tetapi apakah benar ”Kerauhan” itu pasti kedatangan Bhuta Kala tidak ada yang bisa menjawab secara pasti bahkan juga oleh kita yang melemparkan pendapat itu.

Berikut ini penulis mencoba berbagi pendapat sebatas yang diketahu,i harapannya nanti ada yang melengkapi atau menyempurnakannya. Kerauhan ini umumnya bisa dialami oleh 3 kelompok masyarakat, yaitu :
1. Mereka yang mendalami kegiatan spiritual/kebatinan dan umumnya dilengkapi dengan kemampuan pengendalian diri ketika kerauhan.
2. Mereka yang secara keturunan atau fungsinya mengharuskan kerauhan, seperti : Para tukang ”Naret” yang menusuk tubuhnya dengan keris saat upacara tertentu, dll. umumnya mereka tidak sadar dengan dirinya saat melakukan fungsi itu. Tukang Naret biasanya sadar setelah diperciki tirta oleh Pemangku.
3. Mereka yang diluar point 1 dan 2, biasanya orang yang lemah secara mental spiritual sehingga mudah kerauhan dan umumnya tidak sadar akan dirinya saat kerauhan.

Pada kesempatan ini penulis akan coba menjelaskan point 1 karena misteri atau pro-kontra banyak terjadi pada kelompok ini. Pinandita/Pemangku, dan Praktisi Spiritual ada pada kelompok ini, walaupun ada Pemangku yang karena fungsinya masuk pada kelompok 2.

Para praktisi spiritual dan Pinandita umumnya bisa kerauhan. Jika Pinandita menjadi muncul kepekaannya karena kesehariannya menjalankan fungsinya, maka praktisi spiritual umumnya diawali oleh bantuan guru atau orang yang lebih senior. Ada guru yang melakukannya melalui ”transfer energi/Prana” ke pusat energinya, ada juga dengan meditasi dan bantuan sarana upacara seperti : Pejati, ada dengan transfer melalui air, dsb. Disamping bantuan guru/ senior, maka yang paling penting adalah orang tersebut punya bakat spiritual (talenta) ini akan mempercepat proses. Bagi orang yang sudah dan baru pertama di transfer energinya, maka ibarat ”Mobil/Motor” yang sudah lama tidak dihidupkan kemudian baru dihidupkan. Saat ”lamsam” getarannya kasar, itu sebagai perumpamaan terhadap orang yang bergerak kesana-kemari ketika melakukan pemusatan pikiran termasuk jika sudah mampu kerauhan. Kembali ke mobil/motor tadi, maka seiring dengan proses waktu, maka lamsam-nya semakin halus, bahkan lama-lama tidak terlihat lagi getaran. Ini suatu pertanda bahwa pengendalian orang tersebut sudah sangat baik. Pada pembahasan ini kita belum berceritra siapa,energi apa, energi setingkat apa yang masuk, apakah : Bhutakala, Leluhur, orang suci, atau yang lebih tinggi, karena untuk hal ini sangat tergantung pada tingkat kesucian orang tersebut, atau tingkat pengamalan ”Tri Kaya Parisudha”. Kita lanjutkan pada fase lamsam yang sudah halus, maka karena kemampuan orang tersebut dia sudah bisa menyerap/ tidak mengalirkan/tidak memperagakan energi yang masuk saat kerauhan, tapi berkomunikasi didalam batinnya. Jika dialirkan/diperagakan, maka persentase penguasaannya bisa diaturnya, jika dicoba dijelaskan dengan persentase walaupun tidak akurat hanya contoh saja, bisa diperagakan 90%, 70%, atau 50% saja. Itulah sebabnya orang tersebut kadang memanfaatkannya saat Pidato, rapat, atau kegiatan apa yang diperlukan. Kegiatan memanfaatkan ini sudah termasuk pada kategori ”Kanuragan/kawisesan/kesaktian”, sehingga bagi yang mendalami ”Kerohanian” ini akan menghambat proses rohani, karena masih mengandung ”Nafsu” padahal kerohanian mengandung ”kepasrahan”, tapi ya itu kembali kepada bakat dan karma seseorang, pada tingkat atau area mana dia berada, Area ”Kanuragan/kewisesan” atau Area ”Kerohanian”.

Pendapat berikut adalah yang merupakan inti dari tulisan ini, bahwa : Kerauhan siapa ?, bhuta kala atau apa ?. Sebelum dilanjutkan perlu disampaikan disini, bahwa point ini adalah ”keyakinan” dan tidak bisa memaksa atau dipaksakan pada setiap orang, jadi ini sekali lagi pendapat pribadi saja. Tingkat Bakat/talenta dan tingkat kesucian seseorang sangat besar perannya disini. Beberapa orang yang berbeda bisa kerauhan dengan tingkat yang berbeda pada tempat yang sama. Secara kasat mata tingkat kesucian yang rauh bisa dilihat. Umumnya kalau Bhutakala /perancangan biasanya menuntut sesuatu kepada kita, biasanya : segehan, kadang telor, anak ayam, tuak, dll. Gerakan tubuhnya juga biasanya beringas. Jika leluhur biasanya diawali dengan menangis dan selanjutnya berceritra tentang sesuatu. Praktisi spiritual yang sengaja tidak menyerap tapi memperagakan akan berusaha agar bertahan lama dan terjadi komunikasi dengan orang lain (penanya) karena pesan-pesan yang disampaikan akan lebih jelas dibandingkan jika diserap yang biasanya berupa kode/isyarat. Jika tingkat kesucian yang rauh lebih tinggi, biasanya diawali macam-macam : bisa puja mantra (tidak jelas), suara-suara seperti irama Palawkya, dsb. Umumnya kerauhan untuk tingkat ini tidak lama, dalam hitungan dibawah lima menit, bahkan dalam detik tetapi bagi yang mampu pengendaliannya bisa lama berkomunikasi. Bisa juga getaran ini turun ketika sedang berbicara, sedang melakukan puja mantra sehingga suara puja mantra berubah, dsb. Sekarang pertanyaannya mungkinkah getaran ”Dewa” seperti misalkan ”Dewa Wisnu” rauh ke seseorang ?. Menurut penulis sangat mungkin. Seperti disebutkan dalam kitab suci Dewa berasal dari kata ”Dev” yang berarti sinar, jadi ini adalah Hyang Widhi tetapi dalam wujud, sedangkan pada manusia ada Atma yang sama dengan Paramaatma, jadi pada tingkat kesucian seseorang yang baik, sangat mungkin sinar Hyang Widhi menyatu pada orang tersebut. Kembali disampaikan, bahwa hal ini tidak bisa dipaksakan untuk orang percaya, jadi terserah pembaca saja.

Sesungguhnya manusia itu tidak ada apa-apanya hanya Hyang Widhi yang kuasa dan punya kemampuan, namun manusia bisa menjadi ”Perantara” baik pada tingkat Bhutakala, leluhur, orang suci, tingkat Bhatara, serta tingkat Dewa, itu semuanya kekuasaan Hyang Widhi. Sebagai pembuktian bisa juga dilihat dari penjelasan atau petunjuk yang diberikan, apakah benar seperti yang disampaikan. Maaf... ada pengalaman orang yang pola berpikirnya logis dan sangat ilmiah yang tidak percaya sama yang namanya kerauhan, suatu saat mempercayakan dirinya pada orang yang dianggap mampu untuk bertanya tentang leluhurnya. Mungkin karena ”Percaya” tadi, praktisi spiritual yang tidak tahu apa-apa menjadi bisa menunjukkan Mrajan Agung leluhur sipenanya dan minta agar sipenanya tangkil kesana, permintaan itu dituruti dan ketika Pemangku Mrajan membuka pintu tempat Pratima leluhurnya, sang kawan (penanya) ini langsung kerauhan padahal sebelumnya tidak pernah bahkan tidak percaya. Menurut Pemangku ini kerauhan Bhatara Kawitan. Setelah itu si kawan ini 3 hari tidak bangun dari tempat tidurnya, dan sekarang menjadi orang yang sangat taat tangkil ke Pura Kawitan. Contoh lain anak teman yang sudah dibawa kedokter panasnya tidak turun-turun dan dikatakan tipes, dalam hitungan beberapa jam langsung turun setelah diberi tirta, hanya karena si bapak tidak bisa menjaga kesucian tempat sembahyangnya, dan.. contoh-contoh lain yang tidak perlu disebutkan, namun perlu ditekankan agar manusia tidak sombong, bahwa manusia tidak punya kemampuan hanya Hyang Widhi yang punya semuanya dan yang menyebabkan keberhasilan dua contoh diatas. Contoh ini hanya mengantarkan kepada pembaca, bahwa ”bukti” juga bisa menjadi alat ukur. Yang sangat penting juga adalah ”kepercayaan” , jika setengah-setengah, apalagi dengan maksud menguji, mungkin tidak akan diperoleh apa-apa. Jadi jika datang kepada seorang perantara/mediator spiritual dimanapun adanya , maka ”Ini adalah dari anda untuk anda”, si mediator yang membantu anda bukan orang sakti tetapi memang tugasnya sebagai media. Satu lagi jangan melihat fisik sang mediator, misalnya jenggot panjang, baju putih, dsb. tetapi coba rasakan pribadi sang mediator karena tingkat kesucian sang mediator dan jodoh akan merupakan syarat kunci keberhasilan tujuan anda.

Baiklah, cukup dulu penulis berceritra menyampailan pendapat pribadi tentang ”Kerauhan”, semoga tidak menimbulkan kesan negatif buat penulis, hal ini semata-mata berbagi pengalaman sebatas pengetahuan sendiri, syukur jika ada yang melengkapi bahkan mengkoreksi jika ini keliru. Kedepan agar kita dapat melihat lebih jernih terhadap ”Kerauhan” itu sendiri.


Penulis,


Nyoman Sukadana
Karanganyar-Solo-Jateng
01-10-2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan bagi yang ingin memberi komentar, masukan, rembug, atau sejenisnya dengan etis dan kesadaran untuk kebaikan bersama (Salam Pemilik Blog)