Senin, November 02, 2009

UPAKARA YADNYA ANTARA SASTRA DAN DRESTHA


Disamping masalah Catur Warna yang kemudian menjadi Catur Wangsa bahkan disalah kaprahkan menjadi Kasta, rupanya umat Hindu di Bali masih banyak melakukan kekeliruan yang sudah men-tradisi untuk kurun waktu yang cukup lama sehingga menganggap apa yang dilakukan itu sudah benar adanya. Salah satu yang perlu disampaikan kepada umat adalah masalah Upakara Yadnya.

Menurut Ida Pandita Mpu Daksa Jaya Dhyana, dari Pasraman Wanagiri, Br.Baledan, Kec.Nusa Penida, Klungkung, yang menceritrakan kepada penulis ketika beliau hadir di Karanganyar, menyampaikan, bahwa di Bali masih banyak masyarakat mempersiapkan Upakara Yadnya dengan mengikuti Drestha/ Care (Kebiasaan setempat) yang merupakan warisan pendahulunya dimana belum tentu memiliki dasar Sastra Weda. Karena kuatnya Drestha ini, maka sering masyarakat ”Memengkung (Membandel)” ketika diarahkan kepada yang benar. Contohnya saja ketika melaksanakan Pitra Yadnya, masih ada masyarakat yang perlu membawa tanah Setra (Tanah Kuburan) dari sang Sawe kerumah bahkan ke Mrajan, ini tentu saja ”Leteh” baik bagi Mrajan atau rumah yang bersangkutan juga desa. Ada juga umat yang membekali sang Atma dengan pakain bagus-bagus lalu dibakar padahal sehari-harinya keluarga ini memakai pakaian biasa-biasa saja. Yang berlebihan lagi ada yang sampai membakar emas, bahkan mobil untuk bekal kepada Sang Atma, padahal beliau tidak perlu perhiasan emas apalagi nyetir mobil tentu tidak bisa. Yang diperlukan disini adalah ”Ketulusan hati dan doa serta sujud bakti keturunan atau keluarganya”, biarlah harta benda yang mungkin hasil karya dari beliau semasih hidup dipergunakan untuk anak keturunannya dan itu pasti membanggakan beliau karena masih bisa memelihara keturunannya, lagipula karena umat Hindu percaya Punarbhawa (Reinkarnasi) maka bisa jadi beliau menitis kembali, maka harta benda itu bisa untuk dipergunakan memelihara beliau yang menitis lagi. Kekeliruan lain adalah pengertian tentang ”Rsi Ghana”, sebagai bentuk Pecaruan Agung, masih banyak umat yang melihat atau lebih fokus pada eteh-eteh atau pelengkap atau sarana dari Caru Rsi Ghana ini seperti binatang-binatang serta bebantenannya. Inti dari Caru Rsi Ghana ini adalah pada ”Banten Ghana” yang hanya satu tanding saja, namun isinya sangat lengkap, yang paling penting lagi harus dipuput oleh Pandita (Brahmana/Sulinggih) karena tingkatan upakaranya yang belum boleh dilakukan oleh Pemangku/Pinandita, jadi Pecaruan Rsi Ghana juga bisa dengan biaya murah. Contoh-contoh kekeliruan dimasyarakat ini sangat banyak jika diungkapkan, itulah sebabnya masyarakat Hindu di Bali menjadi terkuras harta-bendanya hanya untuk kebutuhan Yadnya saja, sehingga hanya akan membuat miskin Sang Yajamana (yang punya kerja) dan membuat kaya tukang banten. Kebutuhan akan Yadnya yang keliru ini telah mengalahkan kebutuhan lainnya, seperti : Pendidikan, kesehatan, juga bantuan kepada fihak lain yang membutuhkan (Dana Punia/Dana Paramitha). Untuk itu para tokoh umat atau Pandita/Brahmana/Sulinggih perlu meluruskan hal ini dimasyarakat bukan membiarkan apalagi mengambil keuntungan atas kekeliruan ini, termasuk pendapat pada Raditya edisi Agustus 2006 tentang Mati Ulah pati yang menyebutkan banten Triwangsa lebih besar dari Jaba, apa ada dasar Sastra Weda ? dan masih relevankah Istilah Triwangsa dan Jaba yang merupakan produk kolonial Belanda diaplikasikan dijaman sekarang ? Belanda melegalkan Kasta pada abad XVI, setelah menghidupkan kembali bekas kerajaan yang tenggelam karena saling serang ketika runtuhnya Majapahit Hindu. Sesudah Majapahit Hindu runtuh, maka Raja di Bali yang ditempatkan Majapahit otomatis tidak mendapat pimpinan dari induknya di Jawa, Belanda sudah hengkang sangat lama dari Nusantara tetapi sistim pemecah belahnya masih terasa sampai sekarang di Bali, siapa yang bodoh disini ?

Kembali kepada permasalahan Yadnya, seperti diketahui, bahwa dasar-dasar Yadnya yang benar adalah ”Sastra” karena ini sumbernya dari Weda. Sastra yang dimaksud adalah : Untuk Dewa Yadnya Sundarigama, Pitra Yadnya Yama Purana Tattwa, Manusa Yadnya Widhi Castra, Bhuta Yadnya  Bhama Kerti dan Glagah Puwun. Sastra-sastra ini harusnya dijadikan pegangan bagi para Brahmana, Pinandita, atau sang Amuput Karya dalam mengantarkan Yadnya umat, sehingga tidak keliru, lebih effisien, dan effektif. Pola-pola yang hanya berdasarkan kepada Mule Keto atau lontar-lontar yang tidak jelas rujukannya seharusnya mulai dipertanyakan keabsahannya untuk dasar Yadnya. Sekarang ini Hindu di Indonesia sudah bukan dianut oleh orang Bali saja tetapi juga oleh etnis lain, seperti Jawa, Dayak Kaharingan (Kalimantan), Sulawesi, Batak Karo (Sumatra), dan lain-lain, bahkan etnis Bali yang tinggal diluar Bali juga sangat kritis menyikapi kekeliruan-kekeliruan di Bali sehingga perlu diambil tindakan yang bijaksana agar umat ini tidak terpuruk ekonominya hanya karena tidak memperoleh pendidikan yang benar akan hakekat Yadnya. Untuk itu bisa dilakukan dari dua arah , yang pertama adalah dari Desa setempat melalui tokoh desa dan yang kedua dari atas melalui birokrat di PHDI, Departemen Agama, atau tokoh masyarakat lewat Darmawacana dimedia atau terjun langsung dengan niat untuk meluruskan kekeliruan, bukan sibuk meng-Ajegkan kekeliruan atau prestise yang semu, yang pada hakekatnya adalah pembodohan. Kembalilah kepada ajaran Hindu yang benar yang bersumber dari Weda dalam setiap kehidupan masyarakat.




Penulis,


Nyoman Sukadana
Karanganyar - Solo - Jawa Tengah
21-08-2006

2 komentar:

  1. Om Swastyastu,

    boleh saya copy-copy artikel di web ini pak???

    Suksma,

    BalasHapus
  2. Silahkan di-copy karena tujuan blog ini untuk berbagi.

    BalasHapus

Silahkan bagi yang ingin memberi komentar, masukan, rembug, atau sejenisnya dengan etis dan kesadaran untuk kebaikan bersama (Salam Pemilik Blog)